Gangguan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) pada Kebun Campuran di Kabupaten Kuningan
DOI:
https://doi.org/10.25134/jiar.v2i1.30Keywords:
Gangguan, satwa liar, monyet ekor PanjangAbstract
Monyet ekor panjang merupakan salah satu spesies satwa liar yang sangat popular karena sebarannya yang luas. Hal ini dapat terjadi karena monyet ekor panjang merupakan satwa liar yang mampu beradaptasi di berbagai tipe habitat. Penelitian mengenai gangguan monyet ekor panjang di Desa Karamatwangi Kecamatan Garawangi Kabupaten Kuningan menggunakan metode wawancara, observasi dan studi literatur bertujuan untuk mengetahui jenis tanaman yang diganggu, ukuran kelompok pengganggu, waktu mengganggu dan upaya cara mengusirnya. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2023-Januari 2024 di dua blok desa Karamatwangi yaitu blok lapang dan blok godong. Gangguan pada lahan pertanian yang disebabkan oleh monyet ekor panjang pada umumnya terjadi pada tiga periode waktu gangguan yaitu pagi, siang dan sore hari. Terdapat 19 jenis tanaman yang diganggu oleh monyet ekor Panjang (Macaca fascicularis). Ukuran kelompok ketika mengganggu lahan pertanian yaitu 20 ekor. Bentuk pencegahan yang sudah dilakukan oleh masyarakat sekitar adalah diusir pakai ketapel, diusir pakai batu, diusir pakai suara tembakan, dilempar kayu, diusir pakai petasan, membuat orang-orangan sawah dan digebreg seng.
References
Anggrita. (2013). Aktivitas makan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur Jakarta [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Arikunto. (1998). Manajemen penelitian journal Penelitian Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Jakarta Vol. 1(3),13-20.
Bercovitch, F.B., & Huffman, M.A. (1999). The Macaques di dalam: Dolhinow P,Fuentes A. editor. The Non-Human Primates. California: Mayfield Publishing Company. hlm 77-85.
BTNG. (2011). Konflik Satwa Liar, fromhttp://tngciremai.com/wiki/konflik-satwa-liar
Djuwantoko, Utami, R.N., & Wiyono. (2008). Perilaku agresif monyet, Macaca fascicularis (Raffles, 1821) terhadap wisatawan di Hutan Wisata Alam Kaliurang, Yogyakarta. J. Biol. Divers. 9(4):301–305.
Eudey, A.A. (2008). The Crab-eating macaque (Macaca fascicularis): Widespread and rapidly declining. Primate Conservation. 23:129-132.
Fa, J.E. (1992). Visitor-Directed aggreesion among the Gibraltar Macaques. Zoo Bilology. 11(1): 43–52.
Ganguli, I., & Pradipika, V. (2018). Assessment of human-macaque conflict and possible mitigation strategies in and around Asola-Bhatti Wildlife Sanctuary, Delhi NCR, Environtment & Ecology. 36(3): 823-827.
Hadi, I., Suryobroto, B., & Perwitasari, F.D. (2007). Food preference of semiprovisioned macaques based on feeding duration and foraging party size. Hayati. 14:13-17.
Heriyanto, N.M., & A.S Mukhtar. (2011). Gangguan satwaliar di lahan pertanian sekitar Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. 8(1): 55 – 63.
Kurniawan, A. (2009). Serangan awal kera ekor panjang (Macaca fascicularis) pada HTI Acacia mangium di PT. Musi Hutan Persada Sumatera Selatan. Tekno Hutan Tanam. 2(2):77–82.
Lane, Michelle, Aida, & Agustin. (2010). Pest, pestilence, and people: the long-tailed macaque and its role in the cultural complexities of Bali, Indonesia. Primates. 3: 235-248.
Lekagul, B., & McNeely, J.A. 1977. Mammals of Thailand. Kurusapha Ladprao Press, Sahakarnbhat Co. Bangkok.
Musfaidah, R., Nugroho, A.S. & Dzakiy, M.A. (2019). Karakteristik vegetasi pakan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) pada daerah jelajah di Kelurahan Kandri Kecamatan Gunungpati, Seminar Nasional Edusaintek FMIPA UNIMUS, 382–389.
Nasichah, Z., Harianto, S.P., & Winarno, G.D. (2018). Mitigasi gangguan simpai (Presbitys melalophos) pada lahan agroforestri di Hutan Lindung Register 25 Pematang Tanggang, Kelumbayan, Tanggamus. Jurnal Sylva Lestari. 6(2): 7 – 15.
Oriza, O., Setyawati, T.R., & Riyandi. (2019). Gangguan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sekitar pemukiman di Desa Tumuk Manggis dan Desa Tanjung Mekar, Kecamatan Sambas, Kalimantan Barat. Protobiont. 8(1): 27 – 31.
Rianti, A., & Garsetiasih, R. (2017). Persepsi masyarakat terhadap gangguan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan. 14(2): 83 – 99.
Sajuthi, D., Astuti, D.A, Perwitasari, D., Iskandar, E., Sulistiawati, E., Suparto, I.H., & Kyes, R.C. (2016). Macaca fascicularis : Kajian Populasi, Tingkah Laku, Status Nutrien dan Nutrisi untuk Model Penyakit. Di dalam: Sajuthi D, Astuti DA (eds.), Hewan Model Satwa Primata (Issue April). IPB Press.
Santoso, B., Febriani, S., & Subiantoro D. (2019). Pemetaan konflik monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles) di Desa Sepakung Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang. Indones. J. Conserv. 8(2): 138–145.
Southwick, C., & Siddiqi, M.F. (1994). Primate commensalism: The rhesus monkey of india. Revue D’Ecologie (Terre et la Vie). 49:223-231.
Suwarno, S. (2014). Studi Perilaku Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Tinjil. Di dalam Saputra A (ed.), Prosiding Seminar Nasional XI Biologi, Sains, Lingkungan dan Pembelajarannya. Surakarta: UNS. pp. 544–546.
Trisnawati, S.A. (2014). Studi populasi dan habitat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di cagar alam Pananjung Pangandaran Jawa Barat. Skripsi. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Aang Aprizal Mashuri

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.





